Peserta Peserta Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan Praktik Kompetensi Manajemen (PKM) Universitas Islam Batang Hari (UNISBA) mengadakan kegiatan Workshop Pendidikan dan Budaya bertema “Menjaga Kearifan Lokal di Era Globalisasi: Revitalisasi Seloko Adat dalam Dunia Pendidikan” pada Senin, 20 Oktober 2025, bertempat di Madrasah Aliyah Darusy Syafi’iyah, Kampung Pulau, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batang Hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi pengabdian mahasiswa UNISBA kepada masyarakat dalam mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam dunia pendidikan, sekaligus memperkuat peran pesantren dan madrasah sebagai pusat penanaman nilai karakter dan moral generasi muda.
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh adat dan pendidikan, di antaranya Drs. H. Fathuddin Abdi, S.M.H.K., M.M selaku Ketua Lembaga Adat Daerah Kabupaten Batang Hari, K.H. M. Danial, S.Pd.I., M.Pd selaku Pimpinan Pondok Pesantren Darusy Syafi’iyah, Amrizal, S.Pd.I., M.Pd selaku Dosen Pembimbing PPL & PKM UNISBA, Sugeng Riyadi, S.Sos selaku Kepala MA Darusy Syafi’iyah, serta H. Muhamad As’ari, S.Ag selaku Ketua Lembaga Adat Kampung Pulau. Turut hadir pula para pengurus Lembaga Adat Kampung Pulau, majelis guru, dan para santri Pondok Pesantren Darusy Syafi’iyah yang antusias mengikuti kegiatan ini.
Workshop dibuka secara resmi oleh K.H. M. Danial, S.Pd.I., M.Pd, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa pelestarian adat dan budaya daerah merupakan tanggung jawab bersama, khususnya dalam dunia pendidikan. Beliau menekankan pentingnya menjaga falsafah “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” sebagai pedoman hidup masyarakat Melayu Jambi, seraya memegang teguh prinsip “Adat Lamo P’seko Usang”, yaitu menjaga tradisi lama yang baik dan terbuka terhadap tradisi baru yang lebih baik. Ia juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa UNISBA yang telah menghadirkan kegiatan bernilai edukatif dan budaya sekaligus.
Memperkuat sambutan tersebut, Ketua LAD Batang Hari Drs. H. Fathuddin Abdi, S.M.H.K., M.M, dalam pemaparannya menyampaikan materi bertajuk “Adat Samo, Pseko Tahampar Datar Eco Pakai Balainan”. Ia menjelaskan bahwa seluruh pelaksanaan adat di wilayah Tanah Pilih Jambi harus berpijak pada Pucuk Undang Nan Limo, dan tidak boleh bertentangan sedikit pun dengan syariat Islam. Prinsip “Syarak mengato adat memakai” menjadi landasan utama dalam menjalankan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Jambi agar tetap harmonis dan bermartabat.
Setelah sesi materi utama, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung oleh Pengurus Lembaga Adat Kampung Pulau, yang menampilkan penggunaan Seloko Adat Jambi dalam berbagai konteks kehidupan, seperti musyawarah, adat pernikahan, hingga penyampaian nasihat tradisional kepada generasi muda. Sesi ini berlangsung interaktif dan mendapatkan respons antusias dari para santri serta peserta workshop.
Kepala MA Darusy Syafi’iyah, Sugeng Riyadi, S.Sos, menyampaikan apresiasi mendalam kepada mahasiswa PPL dan PKM UNISBA. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan untuk memperkuat karakter peserta didik, karena kearifan lokal mengandung nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi akhlak mulia. “Kami memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Inisiatif seperti ini harus terus dilanjutkan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan institusi, Rektor Universitas Islam Batang Hari, Dr. Ansori, M.Pd.I, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Dalam keterangannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan mahasiswa seperti ini sejalan dengan visi UNISBA dalam membangun sinergi antara ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan kearifan lokal.
> “Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan budaya. Upaya mengangkat kembali nilai-nilai adat Melayu Jambi melalui kegiatan PPL dan PKM ini adalah langkah nyata dalam mewujudkan pendidikan yang berakar pada identitas bangsa,” ujar Rektor UNISBA.
Melalui workshop ini, diharapkan terjadi penguatan sinergi antara perguruan tinggi, lembaga adat, dan lembaga pendidikan dalam menjaga keberlanjutan kearifan lokal sebagai identitas budaya bangsa. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan pelajar terhadap kekayaan budaya daerah, tetapi juga meneguhkan bahwa nilai adat dan syariat harus hadir berdampingan dalam membangun generasi yang beradab di era modern.






